Membangun Bersama Indonesia: Apa yang Diungkap Komitmen Jangka Panjang Google tentang Kemitraan Teknologi yang Dibutuhkan Negara
Oleh Sachin V. Gopalan, CEO Indonesia Economic Forum
Jakarta — Kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia pada 6–8 Juli 2026 menandai momentum baru dalam hubungan Indonesia-India, termasuk dalam kerja sama di bidang teknologi dan ekonomi digital. Dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto, kedua negara membahas penguatan kerja sama di berbagai bidang, termasuk ekonomi digital, kecerdasan buatan, dan Digital Public Infrastructure. Salah satu pengumuman penting dalam kunjungan tersebut adalah peluncuran Indonesia Open Network (ION), jaringan digital terbuka Indonesia yang dikembangkan dengan mengadopsi arsitektur Open Network for Digital Commerce (ONDC) dari India.
Peluncuran ION menjadi bagian dari percakapan yang lebih besar mengenai bagaimana teknologi dapat digunakan bukan hanya untuk melayani konsumen, tetapi juga untuk membangun kemampuan dan ekosistem digital suatu negara. Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika Indonesia memasuki fase baru transformasi digital, ketika kebutuhan akan infrastruktur terbuka, talenta digital, kecerdasan buatan, dan kemampuan nasional untuk berinovasi semakin besar.
Di tengah momentum tersebut, penting untuk melihat kembali bagaimana kemitraan teknologi jangka panjang dapat membantu membentuk ekosistem digital Indonesia. Dalam konteks inilah pengalaman Google di Indonesia menawarkan sebuah perspektif yang menarik tentang apa yang seharusnya diberikan oleh perusahaan teknologi global kepada negara tempat mereka beroperasi.
Setiap hari, jutaan masyarakat Indonesia menyalakan ponsel Android, melakukan pencarian melalui Google, menggunakan Maps untuk bernavigasi, berkolaborasi melalui Google Docs, belajar melalui YouTube, mengikuti pertemuan melalui Google Meet, dan berkomunikasi menggunakan Gmail.
Bagi sebagian besar masyarakat, berbagai produk tersebut telah begitu melekat dalam kehidupan sehari-hari hingga keberadaannya hampir tidak lagi terasa. Semuanya menjadi bagian dari rutinitas digital, membantu pelajar menyelesaikan tugas, pengusaha menjalankan bisnis, keluarga tetap terhubung, serta pekerja beraktivitas di tengah dunia yang semakin terkoneksi secara digital.
Namun, di balik aplikasi-aplikasi yang begitu familiar tersebut terdapat sebuah cerita yang jauh lebih besar.
Selama dua dekade terakhir, Google secara perlahan telah membantu menurunkan biaya untuk berpartisipasi dalam ekonomi digital. Hal tersebut tidak dicapai semata-mata dengan membangun produk-produk yang sukses. Sebaliknya, Google menciptakan berbagai platform yang dapat menjadi fondasi bagi jutaan orang, bisnis, dan pengembang untuk membangun sesuatu di atasnya, sehingga kemampuan digital yang kuat dapat diakses oleh siapa pun yang memiliki koneksi internet, terlepas dari lokasi geografis maupun tingkat pendapatan.
Pada saat Indonesia memasuki fase berikutnya dalam transformasi digital, perbedaan tersebut layak mendapat perhatian lebih dekat. Masa depan tidak hanya akan ditentukan oleh perusahaan yang memperkenalkan teknologi terbaru atau model kecerdasan buatan paling canggih. Masa depan juga akan semakin ditentukan oleh pihak-pihak yang bersedia membantu negara membangun kemampuan digitalnya sendiri, memperkuat ekosistem lokal, serta meninggalkan pengetahuan yang mampu terus menciptakan nilai jauh setelah produk tertentu mengalami perubahan.
Bagi Indonesia, hal tersebut memunculkan sebuah pertanyaan penting. Di era ketika perusahaan teknologi global bersaing secara agresif untuk mendapatkan pengguna, beban kerja cloud, dan kepemimpinan di bidang kecerdasan buatan, apa yang seharusnya diharapkan sebuah negara dari mitra teknologinya? Apakah keberhasilan hanya diukur dari jumlah pengguna Indonesia yang berhasil dijangkau sebuah platform, atau juga dari seberapa besar kemampuan yang dibantu perusahaan tersebut untuk dibangun Indonesia bagi dirinya sendiri?
Perbedaan inilah yang mungkin akan menentukan babak berikutnya dari ekonomi digital Indonesia.
Lebih dari Sekedar Portofolio Produk
Ketika memikirkan Google, masyarakat tentu akan mengingat berbagai produk yang digunakan setiap hari. Google Search mengubah cara manusia mengakses informasi. Google Maps mengubah cara masyarakat bernavigasi di kota, menemukan bisnis, dan merencanakan perjalanan. YouTube mendemokratisasi publikasi dengan memberikan kesempatan kepada siapa pun yang memiliki smartphone untuk mengedukasi, menghibur, atau membangun audiens tanpa harus memiliki stasiun televisi atau perusahaan penerbitan. Android secara fundamental mengubah industri seluler dengan memungkinkan produsen di berbagai belahan dunia membangun smartphone yang terjangkau, sehingga internet dapat dijangkau oleh miliaran orang yang sebelumnya mungkin tidak memiliki akses terhadap ekonomi digital.
Filosofi yang sama juga terlihat dalam ekosistem teknologi Google yang lebih luas. Gmail membuat komunikasi kelas dunia dapat diakses secara gratis. Chrome mempercepat akses ke internet. Google Docs, Sheets, Drive, dan Meet menghadirkan perangkat kolaborasi berkualitas bagi perusahaan kepada pelajar, startup, dan usaha kecil tanpa memerlukan lisensi perangkat lunak yang mahal. Google Translate menurunkan hambatan bahasa yang selama ini memisahkan pasar dan budaya. Google Classroom memperluas akses terhadap pendidikan, sementara Google Play menciptakan sebuah pasar yang memungkinkan pengembang dari berbagai penjuru dunia menjangkau audiens global.
Secara individual, masing-masing produk tersebut menyelesaikan persoalan praktis. Namun secara kolektif, semuanya menunjukkan sesuatu yang jauh lebih signifikan. Kontribusi terbesar Google bukanlah satu aplikasi tertentu, melainkan filosofi yang konsisten untuk menurunkan berbagai hambatan yang sebelumnya menghalangi masyarakat biasa berpartisipasi dalam ekonomi digital. Google mengurangi biaya untuk mencari informasi, menyampaikan gagasan, berkolaborasi dengan rekan kerja, mempelajari keterampilan baru, dan membangun bisnis. Dengan demikian, Google turut mendemokratisasi akses terhadap teknologi itu sendiri.
Filosofi tersebut telah begitu melekat dalam kehidupan digital modern sehingga sering kali luput dari perhatian. Padahal, filosofi ini merupakan salah satu karakteristik penting dari kontribusi Google terhadap internet global, bukan sekadar menciptakan produk yang sukses, tetapi memperluas akses terhadap peluang digital dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Membangun Platform yang Dapat Dikembangkan oleh Pihak Lain
Mungkin kontribusi Google yang paling bertahan lama adalah kesediaannya untuk membangun platform, bukan sekadar produk.
Keberhasilan Android, misalnya, tidak pernah hanya berkaitan dengan smartphone. Melalui Android Open Source Project, Google memungkinkan ratusan produsen berinovasi di atas fondasi teknologi yang sama, alih-alih mengunci industri dalam satu ekosistem proprietary. Perangkat Android yang terjangkau menjadi pintu masuk bagi miliaran orang, termasuk jutaan masyarakat Indonesia, untuk pertama kalinya terhubung dengan internet.
Filosofi yang sama juga terlihat dalam portofolio teknologi Google yang lebih luas. TensorFlow mempercepat penelitian kecerdasan buatan dengan menyediakan perangkat machine learning canggih secara terbuka bagi peneliti dan pengembang di seluruh dunia. Kubernetes secara fundamental mengubah komputasi cloud dengan menjadi standar global untuk orkestrasi container. Flutter menyederhanakan pengembangan aplikasi di berbagai sistem operasi. Firebase memungkinkan startup meluncurkan layanan digital canggih tanpa harus terlebih dahulu berinvestasi besar dalam infrastruktur backend. Chromium turut membentuk perkembangan browser modern, sementara bahasa pemrograman Go menjadi salah satu perangkat yang banyak digunakan untuk membangun sistem digital berskala besar.
Masing-masing teknologi tersebut mengikuti pola yang sama. Alih-alih memusatkan inovasi hanya di dalam produk Google sendiri, teknologi-teknologi tersebut memungkinkan inovasi berkembang di seluruh ekosistem. Pengembang, universitas, startup, dan perusahaan dapat menciptakan nilai dengan lebih cepat karena teknologi dasar yang dibutuhkan telah tersedia.
Pendekatan ini secara fundamental mengubah ekonomi inovasi. Daripada setiap perusahaan harus menciptakan kembali infrastruktur dasar yang sama, para pengusaha dapat berfokus pada penyelesaian persoalan nyata. Daripada mengalokasikan sumber daya yang terbatas untuk membangun infrastruktur dasar, startup dapat mengarahkan perhatian pada pelanggan dan pengembangan gagasan baru.
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, hal ini sangat penting. Inovasi menjadi semakin tidak bergantung pada akses terhadap modal dalam jumlah besar dan semakin bergantung pada akses terhadap pengetahuan, talenta, dan fondasi teknologi yang terbuka. Dalam konteks tersebut, kontribusi terbesar Google mungkin bukan hanya teknologi yang dibangunnya sendiri, tetapi berbagai inovasi yang dimungkinkan oleh teknologi tersebut.
Babak Digital Indonesia Berikutnya
Transformasi digital Indonesia kini memasuki tahap yang secara fundamental berbeda.
Babak pertama berfokus pada menghubungkan masyarakat dengan internet. Babak kedua ditandai dengan pertumbuhan pesat e-commerce, pembayaran digital, fintech, dan aplikasi seluler yang mengubah cara masyarakat Indonesia berkomunikasi, berbelanja, dan menjalankan bisnis. Namun, babak berikutnya jauh lebih ambisius. Fokusnya adalah membangun kapasitas nasional dalam kecerdasan buatan, Digital Public Infrastructure (DPI), komputasi cloud, keamanan siber, identitas digital, semikonduktor, serta keterampilan tingkat lanjut yang dibutuhkan untuk bersaing dalam ekonomi global yang berubah dengan cepat.
Hal-hal tersebut kini bukan lagi sekadar inisiatif teknologi. Semuanya telah menjadi prioritas pembangunan nasional.
Negara-negara yang menguasai kemampuan tersebut akan semakin mampu menentukan masa depan ekonominya sendiri. Sebaliknya, negara yang hanya menjadi konsumen teknologi yang dikembangkan di tempat lain berisiko menjadi bergantung pada ekosistem digital yang tidak mereka kendalikan.
Karena itu, visi Indonesia Emas 2045 tidak hanya berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi. Visi tersebut juga berbicara tentang membangun bangsa yang tangguh, inovatif, dan memiliki kemampuan teknologi untuk bersaing secara global, sekaligus memastikan manfaat transformasi digital dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.
Di sinilah peran mitra teknologi menjadi sangat penting. Pertanyaannya tidak lagi sekadar perusahaan mana yang menawarkan produk paling menarik. Pertanyaannya adalah perusahaan mana yang bersedia membantu Indonesia memperkuat kapasitasnya sendiri untuk berinovasi, mendidik, membangun institusi, dan menciptakan peluang bagi generasi mendatang.
Dari Platform Terbuka Menuju Jaringan Terbuka
Dalam konteks tersebut, dukungan Google terhadap ekosistem digital terbuka bukanlah perubahan strategi yang baru terjadi. Hal tersebut merupakan kelanjutan alami dari filosofi yang telah membentuk perusahaan sejak awal: teknologi menciptakan nilai terbesar ketika mampu menurunkan hambatan, memperluas partisipasi, dan memungkinkan pihak lain untuk berinovasi.
Filosofi yang sama kini menjadi dasar bagi generasi baru Digital Public Infrastructure (DPI). Di berbagai belahan dunia, pemerintah semakin menyadari bahwa tahap berikutnya dari transformasi digital tidak dapat sepenuhnya bergantung pada platform proprietary yang beroperasi secara terpisah. Sebaliknya, negara-negara mulai berinvestasi dalam infrastruktur digital bersama yang memungkinkan bisnis, pemerintah, dan masyarakat berinteraksi melalui standar yang sama, sebagaimana jalan, pelabuhan, dan jaringan telekomunikasi mendorong pertumbuhan ekonomi pada generasi sebelumnya.
Open Network for Digital Commerce (ONDC) India merupakan salah satu contoh paling ambisius dari pendekatan ini. Alih-alih menciptakan marketplace e-commerce lainnya, ONDC membangun jaringan terbuka tempat pembeli, penjual, perusahaan logistik, penyedia pembayaran, dan platform teknologi dapat saling terhubung dan berinteroperabilitas, terlepas dari aplikasi yang mereka gunakan. Persaingan pun bergeser, dari sekadar menguasai pelanggan menjadi menghadirkan produk, layanan, dan inovasi yang lebih baik.
Indonesia kini mengambil jalur serupa melalui Indonesia Open Network (ION). Terinspirasi oleh ONDC dan dibangun di atas arsitektur Beckn 2.0, ION berupaya membangun jaringan perdagangan yang terbuka dan interoperabel, tempat UMKM, koperasi, penyedia logistik, lembaga keuangan, dan aplikasi digital dapat berpartisipasi melalui standar bersama, bukan melalui silo digital yang terpisah. Tujuannya bukan menggantikan marketplace atau aplikasi yang sudah ada, melainkan menciptakan infrastruktur digital yang memungkinkan seluruh pihak tersebut terhubung secara lebih efisien sekaligus memberikan kebebasan lebih besar kepada pelaku usaha dalam menentukan cara mereka menjangkau pelanggan.
Bagi lebih dari 30 juta usaha mikro, kecil, dan menengah di Indonesia, implikasinya sangat besar. Partisipasi digital tidak seharusnya lagi bergantung pada keharusan bergabung dengan satu platform dominan. Koperasi kopi di Aceh, produsen furnitur di Jepara, pelaku usaha perikanan di Maluku, maupun produsen batik di Pekalongan seharusnya dapat mengakses pembeli, logistik, pembayaran, pembiayaan, dan layanan digital melalui jaringan terbuka yang mendorong persaingan, bukan ketergantungan.
Visi tersebut sejalan dengan tujuan Indonesia yang lebih luas untuk memastikan transformasi digital tidak hanya memberikan manfaat kepada korporasi besar dan pusat-pusat perkotaan, tetapi juga kepada para pengusaha dan masyarakat di seluruh penjuru nusantara.
Kesediaan Google untuk mendukung berbagai ekosistem terbuka seperti ini karena itu sepenuhnya konsisten dengan pendekatan teknologi yang telah dijalankannya selama ini. Hal tersebut mencerminkan pemahaman bahwa infrastruktur digital menjadi semakin bernilai ketika mampu memberdayakan sebuah ekosistem, bukan hanya satu platform. Dalam ekonomi digital yang semakin terhubung, memungkinkan kolaborasi pada akhirnya dapat terbukti lebih bernilai daripada mengendalikannya.
Perbedaan antara Kehadiran dan Partisipasi
Indonesia telah menjadi salah satu ekonomi digital dengan pertumbuhan tercepat di dunia, menjadikannya pasar prioritas bagi hampir setiap perusahaan teknologi global. Jutaan masyarakat Indonesia menggunakan mesin pencari internasional, platform media sosial, layanan cloud, dan perangkat kecerdasan buatan setiap hari. Dari perspektif komersial, Indonesia merupakan salah satu pasar digital paling menarik di Asia.
Namun, terdapat perbedaan penting antara melayani sebuah pasar dan berpartisipasi dalam pembangunannya.
Banyak perusahaan teknologi global menghadirkan produk unggulan kepada pengguna Indonesia melalui layanan digital lintas batas. Platform mereka digunakan secara luas, teknologi mereka sangat inovatif, dan pengaruhnya terhadap kehidupan sehari-hari tidak dapat disangkal. Namun, tahap berikutnya dari perjalanan digital Indonesia membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar produk. Indonesia membutuhkan kemitraan jangka panjang yang berkontribusi pada kemampuan negara untuk berinovasi, mendidik, membangun institusi, dan mengembangkan talenta.
Selama dua dekade terakhir, Google semakin menunjukkan komitmen yang lebih luas tersebut. Di luar produk komersialnya, perusahaan ini telah membangun kehadiran jangka panjang di Indonesia, berinvestasi dalam tim lokal, mengembangkan komunitas pengembang, bermitra dengan universitas, serta bekerja sama dengan lembaga pemerintah dalam bidang literasi digital, keamanan daring, dan pengembangan tenaga kerja. Melalui Google.org, Google juga mendukung pendidikan, organisasi nonprofit, ketahanan digital, serta berbagai inisiatif yang membantu masyarakat beradaptasi dengan lanskap teknologi yang berubah dengan cepat.
Investasi semacam ini jarang mendapatkan perhatian sebesar peluncuran produk baru atau kemajuan dalam kecerdasan buatan. Investasi tersebut tidak selalu menghasilkan berita utama secara langsung dan juga tidak mudah diukur melalui hasil keuangan kuartalan. Nilainya baru terlihat seiring waktu, ketika semakin banyak pengembang membangun bisnis yang sukses, semakin banyak pelajar memperoleh keterampilan digital, semakin banyak startup muncul, dan semakin banyak institusi memperkuat kemampuan teknologinya.
Inilah perbedaan antara kehadiran perusahaan dan partisipasi yang sesungguhnya. Yang pertama terutama berfokus pada melayani pelanggan. Yang kedua berkontribusi pada penguatan ekosistem tempat para pelanggan tersebut hidup dan bekerja.
Seiring Indonesia terus membangun ekonomi digitalnya, perbedaan ini akan menjadi semakin penting. Negara-negara yang menginginkan daya saing teknologi jangka panjang secara alami akan memilih mitra yang bersedia berinvestasi bukan hanya dalam pertumbuhan pasar, tetapi juga dalam membangun kapasitas nasional.
Membangun Menuju Indonesia Emas 2045
Ambisi Indonesia untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi terkemuka di dunia pada 2045 tidak akan tercapai hanya melalui peningkatan PDB atau koneksi internet yang lebih cepat. Keberhasilan akan bergantung pada kemampuan negara dalam membangun institusi, talenta, kapasitas riset, dan infrastruktur digital yang dibutuhkan untuk bersaing dalam ekonomi global yang semakin berbasis pengetahuan.
Kecerdasan buatan, Digital Public Infrastructure, manufaktur semikonduktor, komputasi cloud, keamanan siber, dan keterampilan digital tingkat lanjut dengan cepat menjadi fondasi penting bagi daya saing nasional. Sebagaimana jalan, pelabuhan, dan listrik menjadi penentu pembangunan industri pada abad ke-20, infrastruktur digital akan semakin menentukan peluang ekonomi pada abad ke-21.
Pemerintah tidak dapat membangun masa depan ini sendirian. Begitu pula sektor swasta, universitas, maupun startup jika bergerak secara independen. Untuk mewujudkan ambisi Indonesia Emas 2045, dibutuhkan sebuah ekosistem tempat kebijakan publik, dunia usaha, akademisi, dan mitra teknologi bekerja bersama untuk memperluas peluang dan memperkuat kapasitas nasional.
Mungkin inilah pelajaran yang lebih luas dari keterlibatan Google selama bertahun-tahun di Indonesia. Kontribusi terbesarnya mungkin bukan satu produk, platform, atau terobosan teknologi tertentu, melainkan filosofi yang konsisten dalam menurunkan hambatan, memperluas akses, dan memungkinkan pihak lain untuk berinovasi.
Filosofi tersebut sejalan dengan ambisi digital Indonesia sendiri: menciptakan ekonomi di mana teknologi memberdayakan semua orang, bukan hanya mereka yang memiliki neraca keuangan terbesar, kekuatan pasar terbesar, atau keahlian teknis paling mendalam.
Perusahaan teknologi sering kali menggambarkan negara sebagai pasar. Indonesia seharusnya mengharapkan sesuatu yang lebih. Indonesia perlu mencari mitra yang memandang negara ini sebagai tempat untuk membangun, berinvestasi, dan berinovasi bersama dalam jangka panjang. Perusahaan yang memberikan kontribusi terbesar terhadap masa depan Indonesia belum tentu merupakan perusahaan dengan pangsa pasar terbesar, melainkan perusahaan yang investasinya meninggalkan fondasi paling kuat untuk terus dikembangkan oleh pihak lain.
Jika Indonesia berhasil mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, sejarah kemungkinan tidak akan mengingat aplikasi mana yang paling banyak diunduh atau model kecerdasan buatan mana yang paling banyak menjadi berita utama. Sejarah justru akan mengingat kemitraan yang membantu memperkuat kapasitas Indonesia untuk berinovasi, bersaing, dan berkembang dengan caranya sendiri.
Pada akhirnya, ukuran keberlanjutan sebuah mitra teknologi bukanlah seberapa besar nilai yang diambilnya dari sebuah negara, melainkan seberapa besar kemampuan yang ditinggalkannya bagi negara tersebut.
Press Release juga sudah tayang di VRITIMES