{"id":30815,"date":"2025-10-01T15:46:24","date_gmt":"2025-10-01T06:46:24","guid":{"rendered":"https:\/\/seadaily.biz\/?p=30815"},"modified":"2025-10-01T15:49:01","modified_gmt":"2025-10-01T06:49:01","slug":"krakatau-steel-tetap-konsisten-perkuat-industri-baja-dalam-negeri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/seadaily.biz\/?p=30815","title":{"rendered":"Krakatau Steel Tetap Konsisten Perkuat Industri Baja Dalam Negeri"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta, 1 Oktober 2025 &#8211; Industri baja merupakan salah satu fondasi penting bagi kemandirian ekonomi nasional. Hampir seluruh sektor strategis seperti konstruksi, perkapalan, pertahanan, transportasi, hingga perumahan bergantung pada pasokan baja dalam negeri. Namun, di tengah gempuran baja impor murah dan tantangan struktural industri, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk\/Krakatau Steel Group menegaskan perlunya dukungan penuh dari pemerintah dan DPR RI untuk memperkuat daya saing industri baja nasional.<\/p>\n<p>Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Akbar Djohan \u00a0menyampaikan bahwa saat ini industri baja<br \/>\nnasional tengah berada di persimpangan penting. Tanpa perlindungan dan dukungan<br \/>\nkebijakan yang tepat, Indonesia akan terus didera pada impor baja, padahal<br \/>\nkapasitas dalam negeri sesungguhnya sudah mencukupi.<\/p>\n<p>\u201cRegulasi dan kebijakan dari pemerintah serta dukungan dari DPR sangat<br \/>\nkrusial. Ini bukan hanya soal kepentingan satu perusahaan, tapi tentang menjaga<br \/>\nkedaulatan industri strategis nasional,\u201d ujar Akbar Djohan dalam keterangan<br \/>\nresminya.<\/p>\n<p><b>Baja<br \/>\nImpor Ancaman Nyata bagi Produsen Lokal<\/b><\/p>\n<p>Tantangan terbesar yang kini dihadapi industri baja nasional adalah<br \/>\nmembanjirnya produk baja impor murah, terutama dari Tiongkok. Dalam tiga tahun<br \/>\nterakhir, ekspor baja Tiongkok melonjak drastis: dari 67 juta ton pada 2022<br \/>\nmenjadi 90 juta ton pada 2023, dan mencapai 117 juta ton pada 2024. Sekitar 50<br \/>\npersen dari ekspor itu mengalir ke pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia.<\/p>\n<p>\u201cProduk baja impor bisa dijual lebih murah hingga 20-25 dolar per ton.<br \/>\nTanpa instrumen perlindungan seperti Bea Masuk Anti Dumping (BMAD), Safeguard<br \/>\nmelalui Bea Masuk Imbalan, dan juga Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP),<br \/>\nprodusen lokal akan kesulitan bersaing,\u201d jelas Akbar.<\/p>\n<p>Di sisi lain, Indonesia sejatinya memiliki kapasitas produksi baja yang<br \/>\ncukup besar. Bahkan, sekitar 80 persen kebutuhan baja nasional bisa dipenuhi<br \/>\ndari dalam negeri. Namun, kenyataannya 40-55 persen kebutuhan baja masih menggunakan<br \/>\nproduk impor. Hal ini menyebabkan utilisasi produksi Industri Baja Nasional<br \/>\nrata-rata hanya mencapai 57 persen.<\/p>\n<p>\u201cPerlunya implementasi tata niaga impor yang optimal agar impor hanya<br \/>\ndilakukan jika produksi dalam negeri benar-benar tidak mampu memenuhi<br \/>\nkebutuhan. Jika tidak diatur, industri baja nasional akan semakin terpuruk,\u201d<br \/>\ntambahnya.<\/p>\n<p><b>Dukungan<br \/>\nModal Kerja : Kunci Keberlanjutan Industri Baja Dalam Negeri<\/b><\/p>\n<p>Selain tantangan eksternal, \u00a0Krakatau<br \/>\nSteel Group juga menghadapi tantangan internal, khususnya dari sisi kebutuhan<br \/>\nmodal kerja. <\/p>\n<p>Akbar Djohan menyebutkan bahwa penyediaan modal kerja merupakan<br \/>\nkebutuhan mendesak agar perusahaan dapat mengoperasikan fasilitas produksi<br \/>\nsecara efisien dan berkelanjutan. KS Group memiliki kapasitas produksi mencapai<br \/>\n7,9 juta ton per tahun dengan berbagai produk unggulan seperti <i>Hot Rolled<br \/>\nCoil (HRC), Cold Rolled Coil (CRC)<\/i>, pipa las, hingga profil konstruksi.<\/p>\n<p>\u201cRestrukturisasi keuangan dan penyediaan modal kerja menjadi kunci.<br \/>\nTanpa dukungan finansial, upaya peningkatan produktivitas dan efisiensi tidak<br \/>\nakan optimal,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Untuk itu, Krakatau Steel Group mengusulkan agar pemerintah dan DPR<br \/>\ndapat mendukung percepatan penyediaan modal kerja bagi perusahaan. Dukungan<br \/>\ntersebut diharapkan tidak hanya membantu \u00a0Krakatau Steel Group bertahan, tetapi juga<br \/>\nmemperkuat rantai pasok baja nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor.<\/p>\n<p><b>Hilirisasi<br \/>\ndan Sinergi: Jalan Menuju Kemandirian Baja Nasional<\/b><\/p>\n<p>Meski tantangan yang dihadapi tidak kecil, Krakatau Steel Group tetap<br \/>\noptimistis terhadap masa depan industri baja nasional. Salah satu strategi<br \/>\nutama yang tengah dijalankan adalah penguatan hilirisasi dan perluasan sinergi<br \/>\nlintas sektor.<\/p>\n<p>Menurut Akbar Djohan, hilirisasi akan membuka peluang besar untuk<br \/>\nmemperluas rantai nilai produk baja sekaligus menciptakan pasar domestik yang<br \/>\nlebih kuat. \u201cSinergi dengan sektor perkapalan, militer, transportasi, hingga<br \/>\nprogram pembangunan perumahan rakyat akan menjadi motor baru pertumbuhan<br \/>\nindustri baja nasional,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Salah satu peluang strategis yang tengah dibidik adalah program<br \/>\npemerintah untuk pembangunan tiga juta rumah rakyat. Proyek besar ini<br \/>\ndiperkirakan akan menyerap baja dalam jumlah signifikan dan menjadi momentum<br \/>\npenting bagi penguatan industri baja dalam negeri.<\/p>\n<p>Akbar Djohan juga menegaskan pentingnya peran dari legislatif dalam<br \/>\nbentuk dukungan untuk mendorong adanya kebijakan perlindungan pasar,<br \/>\npengendalian tata niaga impor, penyediaan modal kerja, dan fasilitasi<br \/>\nhilirisasi. <\/p>\n<p>\u201cKalau semua pihak bersinergi, industri baja nasional tidak hanya akan<br \/>\nbertahan, tapi juga tumbuh menjadi tulang punggung pembangunan nasional.<br \/>\nKrakatau Steel Group siap berada di garda terdepan dalam agenda besar ini,\u201d<br \/>\npungkas Akbar Djohan yang juga menjabat<br \/>\nsebagai Chairman<br \/>\nALFI\/ILFA (Asosiasi Logistik &amp; Forwarder Indonesia) serta Chairman IISIA<br \/>\n(Indonesia Iron &amp; Steel Industry Association).<\/p>\n<p>Adapun program adalah salah satu bagian bagi<br \/>\nkemajuan\/kesejahteraan masyarakat Indonesia. Dan hal ini bagian dari ASTA CITA<br \/>\nPresiden Prabowo Subianto. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, 1 Oktober 2025 &#8211; Industri baja merupakan salah satu fondasi penting bagi kemandirian ekonomi&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":30817,"comment_status":"close","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-30815","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/seadaily.biz\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/30815","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/seadaily.biz\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/seadaily.biz\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seadaily.biz\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seadaily.biz\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=30815"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/seadaily.biz\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/30815\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":30816,"href":"https:\/\/seadaily.biz\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/30815\/revisions\/30816"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/seadaily.biz\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/30817"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/seadaily.biz\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=30815"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/seadaily.biz\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=30815"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/seadaily.biz\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=30815"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}